Yomigaeru 27


Makalah Budidaya Lele

Budidaya Lele

Disusun oleh :

Denni Susanto (17090011)

Mochamad Ramdhan (17090017)

Kelas : 17.4A.33

TEKNIK INFORMATIKA

UNIVERSITAS BINA SARANA INFORMATIKA BANDUNG

I

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Lele merupakan jenis ikan konsumsi air tawar dengan tubuh memanjang dan kulit licin. Di Indonesia ikan lele mempunyai beberapa nama daerah, antara lain: ikan kalang (Padang), ikan maut (Gayo, Aceh), ikan pintet (Kalimantan Selatan), ikan keling (Makasar), ikan cepi (Bugis), ikan lele atau lindi (Jawa Tengah). Sedang di negara lain dikenal dengan nama mali (Afrika),plamond (Thailand), ikan keli (Malaysia), gura magura (Srilangka), catretrang (Jepang). Dalam bahasa Inggris disebut pula catfish, siluroid, mudfish dan walking catfish. Ikan lele tidak pernah ditemukan di air payau atau air asin. Habitatnya di sungai dengan arus air yang perlahan, rawa, telaga, waduk, sawah yang tergenang air. Ikan lele bersifat noctural, yaitu aktif bergerak mencari makanan pada malam hari. Pada siang hari, ikan lele berdiam diri dan berlindung di tempat-tempat gelap. Di alam ikan lele memijah pada musim penghujan. Ikan lele banyak ditemukan di benua Afrika dan Asia. Dibudidayakan di Thailand, India, Philipina dan Indonesia.

Klasifikasi ikan lele menurut Hasanuddin Saanind a la m Djatmika et al (1986) adalah:

Kingdom :Animalia

Sub-kingdom : M e ta z o a

Phyllum : Chordata

Sub-phyllum : Vertebrata

Klas : Pisces

Sub-klas : Teleostei

Ordo : Ostariophysi

Sub-ordo : Siluroidea

Familia : Clariidae

Genus :Clarias

Di Indonesia ada 6 (enam) jenis ikan lele yang dapat dikembangkan:

1) Clarias batrachus, dikenal sebagai ikan lele (Jawa), ikan kalang (Sumatera Barat), ikan maut (Sumatera Utara), dan ikan pintet (Kalimantan Selatan).

2) Clarias teysmani, dikenal sebagai lele Kembang (Jawa Barat), Kalang putih (Padang).

3) Clarias melanoderma, yang dikenal sebagai ikan duri (Sumatera Selatan), wais (Jawa Tengah), wiru (Jawa Barat).

4) Clarias nieuhofi, yang dikenal sebagai ikan lindi (Jawa), limbat (Sumatera Barat), kaleh (Kalimantan Selatan).

5) Clarias loiacanthus, yang dikenal sebagai ikan keli (Sumatera Barat), ikan penang (Kalimantan Timur).

6) Clarias gariepinus, yang dikenal sebagai lele Dumbo (Lele Domba), King cat fish, berasal dari Afrika.

Ikan lele merupakan salah satu jenis ikan air tawar yang sudah dibudidayakan secara komersial oleh masyarakat Indonesia terutama di pulau jawa. Budidaya lele berkembang pesat dikarenakan :

1. Dapat dibudidayakan di lahan dan sumber air yang terbatas dengan padat tebar tinggi

2. Teknologi budidaya relative mudah dikuasai masyarakat

3. Pemasarannya relative mudah dan modal usaha yang dibutuhkan relative rendah

Budidaya lele sangkuriang dapat dilakukan di areal dengan ketinggian 1m – 800m dpi. Persyaratan lokasi baik kualitas tanah maupun air tidak terlalu spesifik artinya dengan penggunaan teknologi yang memadai terutama pengaturan suhu air budidaya masih tetap dapat dilakukan pada lahan yang memiliki ketinggian di atas > 800m dpi. Namun bila budidaya dikembangkan dalam skala masssal harus tetap memperhatikan tata ruang, dan lingkungan social sekitarnya artinya kawasan budidaya yang dikembangkan sejalan dengan kebijakan yang dilakukan pemda setempat. Budidaya lele, baik kegiatan pembenihan maupun pembesaran dapat dilakukan di kolam tanah, bak tembok atau bak plastic. Budidaya di bak tembok dan bak plastic dapat memanfaatkan lahan pekarangan ataupun lahan marginal lainnya. Sumber air dapat menggunakan aliran iigasi, air sumur(air permukaan atau sumur dalam), ataupun air hujan yang sudah dikondisikan terlebih dahulu. parameter kualitas air yang baik untuk pemeliharaan ikan lele sangkuriang adalah sebagai berikut :

Suhu air yang ideal untuk pertumbuhan lele berkisar antara 22-32 C. suhu air akan mempengaruhi laju pertumbuhan. Laju metabolism ikan dan nafsu makan ikan serta kelarutan oksigen dalam air. PH air yang ideal berkisar antara 6-9. Oksigen terlarut di dalam air harus >1mg/l. budidaya ikan lele sangkuriang dapat dilakukan dalam bak plastic, bak tembok atau kolam tanah. Dalam budidaya ikan lele di kolam yang perlu diperhatikan adalah pembuatan kolam, pembuatan pintu pemasukan dan pengeluaran air.

2. Maksud dan Tujuan

Untuk itu maka kesempatan berinvestasi dalam pembudidayaan lele terutama lele sangkuriang dengan segala kelebihannya perlu ditindaklanjuti, karena pasar yang terbuka cukup lebar sehingga manfaat yang dapat di ambil besar diantaranya :

1) Sebagai bahan makanan baik lele segar maupun lele olahan (abon lele, nugget lele, kerupuk lele dan lain-lain)

2) Ikan lele juga dapat diramu dengan berbagai bahan obat lain untuk mengobati penyakit asma, menstruasi (datang bulan) tidak teratur, hidung berdarah, kencing darah dan lain-lain.

3. Visi dan Misi Usaha

a. Visi

Menjadi satu-satunya peternakan lele yang amanah, dengan lele berkualitas tinggi, biaya rendah, permintaan tinggi, dan harga murah.

b. Misi

1) Memperbaiki kualitas gizi masyarakat Indonesia.

2) Menciptakan lapangan pekerjaan dan mengurangi pengangguran

3) Membantu meningkatkan jiwa wirausaha di kalangan muda

4) Menjadi salah satu perusahaan penyuplai kebutuhan lele di Jawa Barat

4. Lokasi Usaha

Lokasi usaha bertempat di Jalan Laswi Kp. Kawungsari RT 01/11 Kel. Wargamekar Kec. Baleendah Kab. Bandung 40375

5. Factor kunci sukses

Kunci keberhasilan bagi budidaya lele adalah:

· Budidaya menggunakan bibit lele sangkuriang yang merupakan bibit unggul

· Kadaan kolam yang strategis

· Managemen keuangan dan SDM yang professional

· Disiplin dan bertanggung jawab dalam melaksanakan setiap pekerjaan yang ditanggung

6. Gambaran Umum Bentuk Usaha

· Kami adalah pembudidaya yang hanya melakukan pembesaran saja atau hanya menghasilkan daging

· Kami membeli benih kemudian membesarkannya dan menjualnya setelah cukupuntuk dikonsumsi

· Kami juga berencana untuk memproduksi makanan olahan dari lele seperti abon lele,nugget,kerupuk,dll

7. Analisis pesaing

· Pesaing

Banyaknya petani yang membudidayakan lele di wilayah Jawa Barat tidak membuat kami pesimis karena faktanya lele yang dikomsumsi sehari-hari masih disuplai dari luar Jawa Barat sehingga supplai dari Jawa Barat sendiri masih kurang

· Resiko atau hambatan

Resiko yang dipertimbangkan dalam memulai dan mengembangkan usaha ini adalah:

1. Hama penyakit yang ada ketika budidaya berlangsung

2. Tingkat mortalitas(kematian) yang tinggi

3. Kedua resiko ini dapat diminimalisir dengan cara perawatan yang baik dan benar berdasarkani bimbingan ahlinya.

· Analisis SWOT

- Kelebihan

1. Masih tingginya permintaan pasar terhadap lele terlihat dari mahalnya harga lele di pasar

2. Masih impornya perikanan Jawa Barat terutama lele dari luar kota

3. Memiliki cukup senggang untuk mengurus usaha

- Kekurangan

1. Keterbatasan modal yang dimiliki

2. Belum mampu untu melakukan pemijahan sendiri sehingga masih membeli benih dari luar

· Ruang Kesempatan yang Tersedia

1. Banyaknya penjual lele di pasar menjadi nilai tambah karena berarti lele masih mudah dalam pemasaran

2. Belum banyaknya pengembangan hasil produk makan berbahan dasar lele menjadi wilayah olah sendiri

· Ancaman dan Penanggulangannya

§ Banjir menjadi ancaman besar terhadap segala jenis tambak tidak terkecuali lele. Untuk itu sudah jelas kami mencari lahan yang aman dari banjir.

§ Hama seperti berang-berang, ular, biawak dan kepiting menjadi penting untuk diperhatikan karena menurunkan jumlah produksi. Untuk itu kami menanggulanginya dari membuat pagar hingga mengadakan jebakan guna mengurangi jumlah kerugian

§ Penyakit juga bisa menyerang perikanan, untuk itu kami menggap penting untuk menganalisis kualitas air dan kemungkinan tumbuhnya penyakitdikarenakan adanya bibit-bibit penyakit juga persiapan lahan yang matang menjadi salah satu factor penekanan terhadap penyerangan penyakit ini. Kami juga mengadakan pemeriksaan rutin terhadap lele dikarenakan kemungkinan terserang wabah juga besar sehingga penting untuk ditanggulangi

· Analisis pengembangan

§ Dikarenakan masih tingginya permintaan pasar terhadap lele sehingga untuk pengembangan lahan dalam jumlah besar masih dirasa memungkinkan jika hanya mengincar pasar yang sudah ada

§ Menciptakan pasar sendiri juga dinilai penting guna menambah nilai penjualan dengan mengolah hasil pembudidayaan jadi produk olahan yang dapat dikonsumsi secara instan

§ Mencipatakan momentum dan prestis dari produk lele juga menjadi marketing pada hasil olahan lele sehingga tertancap pada benak konsumen bahwa suatu kebanggaan atau kebiasaan mengonsumsi lele pada waktu tertentu, tentunya dalam pengolahan produk lele berbentuk lain

II.

ASPEK YANG DIPERHATIKAN

1. Aspek Pasar

Jawa Barat menjadi pemasok utama ikan lele ke Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi (Jabodetabek) rata-rata 100 ton per malam untuk melayani warung-warung pecel lele di kawasan itu.

Jumlah pedagang pecel lele di Jabodetabek sekitar 25.000 kios. Rata-rata permintaan 100 ton per malam, permintaan lele dari pedagang pecel lele itu sudah berlangsung sejak lama sehingga produktivitas benih sangat menentukan untuk menjaga kontinuitas pasokan. Permintaan 100 ton per malam itu baru dari pedagang pecel lele di Jabodetabek, belum permintaan dari pedagang pecel lele di sejumlah kota/kabupaten di Jawa Barat.

Potensi pasar lele cukup besar dan selama ini belum bisa terpenuhi. Budidaya lele mudah dan bisa dilakukan dalam kondisi cuaca atau musim apapun. Pasokan lele ke Jabodetabek dilakukan dari sejumlah daerah antara lain dari Subang, Bandung, Purwakarta, Sukabumi dan Bogor.

Sejumlah daerah yang membutuhkan pasokan lele dalam jumlah besar lainnya adalah Bandung, Cirebon, Tasikmalaya. Namun permintaan dari kawasan Jabodetabek meningkat signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Permintaan pasar terus meningkat, demikian halnya permintaan benihnya. Sehingga Jabar belum bisa mengekspor benih seperti Jatim.

Pengembangan budidaya ikan lele meningkat sejak tahun 1985 sejak maraknya jenis ikan lele dumbo, namun pengelolaan induk kurang baik sehingga lele dumbo mengalami penurunan kualitas. Di Jawa Barat, khususnya di Balai Pengembangan Budidaya Air Tawar (BPBAT) Cijengkol Subang telah dikembangkan pencetakan induk lele sangkuriang dalam rangka memperbaiki kualitas.

2. Aspek Teknis

a. Persyaratan Lokasi

1) Tanah yang baik untuk kolam pemeliharaan adalah jenis tanah liat/lempung, tidak berporos, berlumpur dan subur. Lahan yang dapat digunakan untuk budidaya lele dapat berupa: sawah, kecomberan, kolam pekarangan, kolam kebun, dan blumbang.

2) Ikan lele hidup dengan baik di daerah dataran rendah sampai daerah yang tingginya maksimal 700 m dpl.

3) Elevasi tanah dari permukaan sumber air dan kolam adalah 5-10%.

4) Lokasi untuk pembuatan kolam harus berhubungan langsung atau dekat dengan sumber air dan tidak dekat dengan jalan raya.

5) Lokasi untuk pembuatan kolam hendaknya di tempat yang teduh, tetapi tidak berada di bawah pohon yang daunnya mudah rontok.

6) Ikan lele dapat hidup pada suhu 200 C, dengan suhu optimal antara 25-280 C. Sedangkan untuk pertumbuhan larva diperlukan kisaran suhu antara 26-300C dan untuk pemijahan 24-280 C.

7) Ikan lele dapat hidup dalam perairan agak tenang dan kedalamannya cukup, sekalipun kondisi airnya jelek, keruh, kotor dan miskin zat O2.

8) Perairan tidak boleh tercemar oleh bahan kimia, limbah industri, merkuri, atau mengandung kadar minyak atau bahan lainnya yang dapat mematikan ikan.

9) Perairan yang banyak mengandung zat-zat yang dibutuhkan ikan dan bahan makanan alami. Perairan tersebut bukan perairan yang rawan banjir.

10) Permukaan perairan tidak boleh tertutup rapat oleh sampah atau daundaunan hidup, seperti enceng gondok.

11) Mempunyai pH 6,5–9; kesadahan (derajat butiran kasar ) maksimal 100 ppm dan optimal 50 ppm; turbidity (kekeruhan) bukan lumpur antara 30–60 cm; kebutuhan O2 optimal pada range yang cukup lebar, dari 0,3 ppm untuk yang dewasa sampai jenuh untuk burayak; dan kandungan CO2 kurang dari 12,8 mg/liter, amonium terikat 147,29-157,56 mg/liter.

12) Persyaratan untuk pemeliharaan ikan lele di keramba :

a. Sungai atau saluran irigasi tidak curam, mudah dikunjungi/dikontrol.

b. Dekat dengan rumah pemeliharaannya.

c. Lebar sungai atau saluran irigasi antara 3-5 meter.

d. Sungai atau saluran irigasi tidak berbatu-batu, sehingga keramba mudah dipasang.

e. Kedalaman air 30-60 cm.

b. Penyiapan Sarana dan Peralatan

Dalam pembuatan kolam pemeliharaan ikan lele sebaiknya ukurannya tidak terlalu luas. Hal ini untuk memudahkan pengontrolan dan pengawasan. Bentukdan ukuran kolam pemeliharaan bervariasi, tergantung selera pemilik dan lokasinya. Tetapi sebaiknya bagian dasar dan dinding kolam dibuat permanen. Pada minggu ke 1-6 air harus dalam keadaan jernih kolam, bebas dari pencemaran maupun fitoplankton. Ikan pada usia 7-9 minggu kejernihan airnya harus dipertahankan.

Pada minggu 10, air dalam batas-batas tertentu masih diperbolehkan. Kekeruhan menunjukkan kadar bahan padat yang melayang dalam air (plankton). Alat untuk mengukur kekeruhan air disebut secchi. Prakiraan kekeruhan air berdasarkan usia lele (minggu) sesuai angka secchi :

- Usia 10-15 minggu, angka secchi = 30-50

- Usia 16-19 minggu, angka secchi = 30-40

- Usia 20-24 minggu, angka secchi = 30

c. Penjarangan:

1. Penjarangan adalah mengurangi padat penebaran yang dilakukan karena ikan lele berkembang ke arah lebih besar, sehingga volume ratio antara lele dengan kolam tidak seimbang.

- Apabila tidak dilakukan penjarangan dapat mengakibatkan :

- Ikan berdesakan, sehingga tubuhnya akan luka.

- Terjadi perebutan ransum makanan dan suatu saat dapat memicu mumculnya kanibalisme (ikan yang lebih kecil dimakan oleh ikan yang lebih besar).

- Suasana kolam tidak sehat oleh menumpuknya CO2 dan NH3, dan O2 kurang sekali sehingga pertumbuhan ikan lele terhambat.

d. Pemberian pakan:

1. Minggu pertama diberi pakan F999 setiap hari.

2. Minggu ketiga diberi pakan F781-2 dan pakan tambahan setiap hari

3. Minggu kelima diberi pakan F781 dan pakan tambahan setiap hari

e. Pemeliharaan Pembesaran

1) Pemupukan

a. Sebelum digunakan kolam dipupuk dulu. Pemupukan bermaksud untuk menumbuhkan plankton hewani dan nabati yang menjadi makanan alami bagi benih lele.

b. Pupuk yang digunakan adalah pupuk kandang (kotoran ayam) dengan dosis 500-700 gram/m2. Dapat pula ditambah urea 15 gram/m2, TSP 20 gram/m2, dan amonium nitrat 15 gram/m2. Selanjutnya dibiarkan selama 3 hari.

c. Kolam diisi kembali dengan air segar. Mula-mula 30-50 cm dan dibiarkan selama satu minggu sampai warna air kolam berubah menjadi coklat atau kehijauan yang menunjukkan mulai banyak jasad-jasad renik yang tumbuh sebagai makanan alami lele.

d. Secara bertahap ketinggian air ditambah, sebelum benih lele ditebar. 2) Pemberian Pakan

f. Pakan

a. Makanan Alami Ikan Lele

1. Makanan alamiah yang berupa Zooplankton, larva, cacing-cacing, dan serangga air.

2. Makanan berupa fitoplankton adalah Gomphonema spp (gol. Diatome), Anabaena spp (gol. Cyanophyta), Navicula spp (gol. Diatome), ankistrodesmus spp (gol. Chlorophyta).

3. Ikan lele juga menyukai makanan busuk yang berprotein.

4. Ikan lele juga menyukai kotoran yang berasal dari kakus.

b. Makanan Tambahan

1. Bangkai ayam dan ikan

2. Isi daleman ikan

3. Darah hewan

4. Keongmas dan bekicot

g. Pemberian Vaksinasi

Cara-cara vaksinasi sebelum benih ditebarkan:

a. Untuk mencegah penyakit karena bakteri, sebelum ditebarkan, lele yang berumur 2 minggu dimasukkan dulu ke dalam larutan formalin dengan dosis 200 ppm selama 10-15 menit. Setelah divaksinasi lele tersebut akan kebal selama 6 bulan.

b. Pencegahan penyakit karena bakteri juga dapat dilakukan dengan menyutik dengan terramycin 1 cc untuk 1 kg induk.

c. Pencegahan penyakit karena jamur dapat dilakukan dengan merendam lele dalam larutan Malachite Green Oxalate 2,5–3 ppm selama 30 menit.

h. Pemeliharaan Kolam/Tambak

a. Kolam diberi perlakuan pengapuran dengan dosis 25-200 gram/m2 untuk memberantas hama dan bibit penyakit.

b. Air dalam kolam/bak dibersihkan 1 bulan sekali dengan cara mengganti semua air kotor tersebut dengan air bersih yang telah diendapkan 2 malam.

c. Kolam yang telah terjangkiti penyakit harus segera dikeringkan dan dilakukan pengapuran dengan dosis 200 gram/m2 selama satu minggu. Tepung kapur (CaO) ditebarkan merata di dasar kolam, kemudian dibiarkan kering lebih lanjut sampai tanah dasar kolam retak-retak.

d. Hama dan Penyakit

1. Hama

· Hama pada lele adalah binatang tingkat tinggi yang langsung mengganggu kehidupan lele.

· Di alam bebas dan di kolam terbuka, hama yang sering menyerang lele antara lain: berang-berang, ular, katak, burung, serangga, musang air, ikan gabus dan belut.

· Di pekarangan, terutama yang ada di perkotaan, hama yang sering menyerang hanya katak dan kucing. Pemeliharaan lele secara intensif tidak banyak diserang hama.

2. Penyakit

Penyakit parasit adalah penyakit yang disebabkan oleh organisme tingkat rendah seperti virus, bakteri, jamur, dan protozoa yang berukuran kecil.

a. Penyakit karena bakteri Aeromonas hydrophilla dan Pseudomonas hydrophylla

Bentuk bakteri ini seperti batang dengan polar flage (cambuk yang terletak di ujung batang), dan cambuk ini digunakan untuk bergerak, berukuran 0,7–0,8 x 1–1,5 mikron. Gejala: iwarna tubuh menjadi gelap, kulit kesat dan timbul pendarahan, bernafas megap- megap di permukaan air. Pengendalian: memelihara lingkungan perairan agar tetap bersih, termasuk kualitas air. Pengobatan melalui makanan antara lain:

1) Terramycine dengan dosis 50 mg/kg ikan/hari, diberikan selama 7–10 hari berturut-turut.

2) Sulphonamid sebanyak 100 mg/kg ikan/hari selama 3–4 hari.

b. Penyakit Tuberculosis

Penyebab: bakteri Mycobacterium fortoitum). Gejala: tubuh ikan berwarna gelap, perut bengkak (karena tubercle/bintil-bintil pada hati, ginjal, dan limpa). Posisi berdiri di permukaan air, berputar-putar atau miring-miring, bintik putih di sekitar mulut dan sirip. Pengendalian: memperbaiki kualitas air dan lingkungan kolam. Pengobatan: dengan Terramycin dicampur dengan makanan 5–7,5 gram/100 kg ikan/hari selama 5–15 hari.

c. Penyakit karena jamur/candawan Saprolegnia.

Jamur ini tumbuh menjadi saprofit pada jaringan tubuh yang mati atau ikan yang kondisinya lemah. Gejala: ikan ditumbuhi sekumpulan benang halus seperti kapas, pada daerah luka atau ikan yang sudah lemah, menyerang daerah kepala tutup insang, sirip, dan tubuh lainnya. Penyerangan pada telur, maka telur tersebut diliputi benang seperti kapas. Pengendalian: benih gelondongan dan ikan dewasa direndam pada Malachyte Green Oxalate 2,5–3 ppm selama 30 menit dan telur direndam Malachyte Green Oxalate 0,1–0,2 ppm selama 1 jam atau 5–10 ppm selama 15 menit.

d. Penyakit Bintik Putih dan Gatal/Trichodiniasis

Penyebab: parasit dari golongan Ciliata, bentuknya bulat, kadang-kadang amuboid, mempunyai inti berbentuk tapal kuda, disebut Ichthyophthirius multifilis. Gejala: (1) ikan yang diserang sangat lemah dan selalu timbul di permukaan air; (2) terdapat bintik-bintik berwarna putih pada kulit, sirip dan insang; (3) ikan sering menggosok-gosokkan tubuh pada dasar atau dinding kolam. Pengendalian: air harus dijaga kualitas dan kuantitasnya. Pengobatan: dengan cara perendaman ikan yang terkena infeksi pada campuran larutan Formalin 25 cc/m3 dengan larutan Malachyte Green Oxalate 0,1 gram/m3 selama 12–24 jam, kemudian ikan diberi air yang segar. Pengobatan diulang setelah 3 hari.

e. Penyakit Cacing Trematoda

Penyebab: cacing kecil Gyrodactylus dan Dactylogyrus. Cacing Dactylogyrus menyerang insang, sedangkan cacing Gyrodactylus menyerang kulit dan sirip. Gejala: insang yang dirusak menjadi luka-luka, kemudian timbul pendarahan yang akibatnya pernafasan terganggu.

Pengendalian:

1) direndam PK 250 cc/m3 air selama 15 menit;

2) Methyline Blue 3 ppm selama 24 jam;

3) mencelupkan tubuh ikan ke dalam larutan Kalium -Permanganat (KMnO4) 0,01% selama @30 menit;

4) memakai larutan NaCl 2% selama @ 30 menit; dapat juga memakai larutanNH4OH 0,5% selama @ 10 menit.

f. Parasit Hirudinae

Penyebab: lintah Hirudinae, cacing berwarna merah kecoklatan. Gejala: pertumbuhannya lambat, karena darah terhisap oleh parasit, sehingga menyebabkan anemia/kurang darah. Pengendalian: selalu diamati pada saat mengurangi padat tebar dan dengan larutan Diterex 0,5 ppm. 7.2. Hama

Kolam/Tambak Apabila lele menunjukkan tanda-tanda sakit, harus dikontrol faktor penyebabnya, kemudian kondisi tersebut harus segera diubah, misalnya :

1) Bila suhu terlalu tinggi, kolam diberi peneduh sementara dan air diganti dengan yang suhunya lebih dingin.

2) Bila pH terlalu rendah, diberi larutan kapur 10 gram/100 l air.

3) Bila kandungan gas-gas beracun (H2S, CO2), maka air harus segera diganti.

4) Bila makanan kurang, harus ditambah dosis makanannya.

i. Panen

· Penangkapan

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemanenan:

1) Lele dipanen pada umur 6-8 bulan, kecuali bila dikehendaki, sewaktu-waktu dapat dipanen. Berat rata-rata pada umur tersebut sekitar 200 gram/ekor.

2) Pada lele Dumbo, pemanenan dapat dilakukan pada masa pemeliharaan 3-4 bulan dengan berat 200-300 gram per ekornya. Apabila waktu pemeliharaan ditambah 5-6 bulan akan mencapai berat 1-2 kg dengan panjang 60-70 cm.

3) Pemanenan sebaiknya dilakukan pada pagi hari supaya lele tidak terlalu kepanasan.

4) Kolam dikeringkan sebagian saja dan ikan ditangkap dengan menggunakan seser halus, tangan, lambit, tangguh atau jaring.

5) Bila penangkapan menggunakan pancing, biarkan lele lapar lebih dahulu.

6) Bila penangkapan menggunakan jaring, pemanenan dilakukan bersamaan dengan pemberian pakan, sehingga lele mudah ditangkap.

7) Setelah dipanen, piaralah dulu lele tersebut di dalam tong/bak/hapa selama 1-2 hari tanpa diberi makan agar bau tanah dan bau amisnya hilang.

8) Lakukanlah penimbangan secepat mungkin dan cukup satu kali.

· Pembersihan

Setelah ikan lele dipanen, kolam harus dibersihkan dengan cara:

1) Kolam dibersihkan dengan cara menyiramkan/memasukkan larutan kapur sebanyak 20-200 gram/m2 pada dinding kolam sampai rata.

2) Penyiraman dilanjutkan dengan larutan formalin 40% atau larutan permanganat kalikus (PK) dengan cara yang sama.

3) Kolam dibilas dengan air bersih dan dipanaskan atau dikeringkan dengan sinar matahari langsung. Hal ini dilakukan untuk membunuh penyakit yang ada di kolam.

j. Pascapanen

1) Setelah dipanen, lele dibersihkan dari lumpur dan isi perut ya. Sebelum dibersihkan sebaiknya lele dimatikan terlebih dulu dengan memukul kepalanya memakai muntu atau kayu.

2) Saat mengeluarkan kotoran, jangan sampai memecahkan empedu, karena dapat menyebabkan daging terasa pahit.

3) Setelah isi perut dikeluarkan, ikan lele dapat dimanfaatkan untuk berbagai ragam masakan.

3. Aspek SDM

Sumber Daya Manusia dilakukan oleh sendiri dengan melakukan konsultasi rutin kepada ahlinya yang tergabung dalam Kelompok Tani Budidaya Lele

4. Aspek Sosial

Kebutuhan akan kecukupan gizi seperti protein yang tinggi di masyarakat mendorong untuk mencari varian baru dari lauk berkadar protein tinggi yang terjangkau selain telur. Ikan merupakan salah satu penyumbang protein selain telor.

5. Aspek Lingkungan

Penggunaan bahan obat penyakit dan penanggulangan hama harus dengan kadar rendah hingga tinggi dengan melihat dampak yang terjadi di lingkungan budidaya.

III.

ANALISA KEUANGAN

1. Modal

Modal yang kami miliki berasal dari modal sendiri dan investor.

2. Aliran Modal

Ada dua jenis pengeluaran dalam bisnis lele, biaya awal dan biaya operasional. Perincian biaya awal dan biaya operasional antara lain sebagai berikut:

a. Biaya awal

Biawa awal adalah biaya yang hanya dikeluarkan satu kali, perinciannya sebagai berikut:

No

Nama

Quantity

Satuan

Harga Satuan

Total

Masa Guna

1

Kolam

1 Tahun

a. terpal

10

Lembar

Rp.50000

Rp.500000

b. bambu

20

Buah

Rp.5000

Rp.100000

c.paralon

10

Buah

Rp.20000

Rp.200000

d.kawat & paku

1

Set

Rp.50000

Rp.50000

Jumlah

Rp.850000

2

Pompa air & selang

1

Set

Rp.500000

Rp.500000

5 Tahun

3

Alat Pelengkap

1

Set

Rp.400000

Rp.400000

4 Tahun

Jumlah

Rp.1.750.000

b. Biaya Produksi

Biaya Produksi dibagi menjadi dua, yaitu biaya Tetap dan biaya Variabel.

No

Nama

Total

Biaya Tetap

1

Penyusutan kolam ( 850.000 : 4 )

Rp.212.500

2

Penyusutan pompa ( 500000 : 20 )

Rp.25.000

3

Penyusutan alat lengkap ( 400000 : 16 )

Rp.25.000

Jumlah

Rp.262.500

Biaya Variabel

1

Bibit lele ( 10000 ekor ) x @125

Rp.1.250.000

2

Pakan 4 karung ( F999,781-2,781 )

Rp.900.000

3

Listrik

Rp.100.000

4

Obat-obatan

Rp.100.000

5

Operasiaonal

Rp.100.000

Jumlah

Rp.2.450.000

Sehingga Total Biaya Produksi yang dibutuhkan meliputi:

Biaya awal+ Biaya Produksi = Total Biaya Produksi

Rp.262.000 + Rp.2.450.000= Rp.2.712.500

c. Keuntungan

Dari investasi awal tersebut maka dapat dihitung cash flow (dengan asumsi bahwa minimal lele panen 4 kali dalam setahun dan jumlah tingkat kehidupan hanya 80% yang nantinya dapat kami naikkan di atas 95%)

Bibit

Tingkat Kehidupan

Jumlah 8 ekor per Kg

Harga / Kg

Total

10000

80%

0,125

Rp.10.000

Rp.10.000.000

Keuntungan ini merupakan perhitungan minimal karena kita menghitung tingkat mortalitas sebesar 20% :

Keuntungan= Total jual-Biaya Produksi

= Rp.10.000.000 - Rp.2.712.500

= Rp.7.287.500

Keuntungan rata-rata perbulan= Keuntungan : 3

Rp.7.287.500 / 3 = Rp.2.429.166,67

Break Event Point (BEP)

BEP harga=Biaya Tetap :1-Biaya Variabel / Pendapatan

= Rp.262.500 :1- Rp.2.712.000/ Rp.10.000.000

= Rp.262.500:0,73

= Rp.359.589,04

IV.

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

1. Kesimpulan

Usaha budidaya lele terutama untuk varietas baru yaitu lele sangkuriang sangat terbuka pasarnya. Ditambah kebutuhan akan lele yang belum terpenuhi dibeberapa tempat mendorong usaha ini untuk maju. Dengan ditunjang karakteristik lele tersebut yang berdaging tebal dan cepat sekali pertumbuhannya dibanding dengan lele dumbo.

2. Rekomendasi

Usaha ini layak untuk dicoba karena peluangnya yang tinggi, bahkan bisa menjadi produk subtitusi dari lele dumbo.

Sumber :Buku Budidaya Lele Sangkuriang, Dit. Pembudidayaan, Ditjen Perikanan

Budidaya

2 komentar:

Pardiansyah mengatakan...

gimana caranya mendownload?

The God of Night mengatakan...

maaf sy gak menyimpan filenya... tp masih bisa di copas koq

Poskan Komentar